Memaafkan tanpa Sakit Hati

Kesalahan adalah hal yang tidak lepas dari diri kita. Seberapa banyak kita melakukan kebaikan, pasti ada masanya kita melakukan kesalahan. Berat atau ringan kesalahan,jangan khawatir kita tetap punya peluang untuk memperbaiki citra dan karakter diri.

     
  Setiap orang pasti pernah merasakan ketidaknyamanan karena disakiti. Hal ini lumrah karena kita adalah makluk sosial yang selalu berkomunikasi. Lantaran bagaiamana jika rasa sakit yang susah dimaafkan, sedangkan memafkan orang lain adalah hal yang sangat mulia bukan? Maafkan dan lupakanlah adalah kata yang seringkali menjadi saran orang lain bagi kita yang terlanjur merasakan sakit hati dan kecewa. Sayangnya hal tersebut tidak semudah yang diucapkan, karena maaf dan memaafkan adalah pekerjaan hati yang mengandalkan unsur rasa, sementara melupakan adalah produk pikiran yang didasari melalui pertimbangan nalar. Namun celakanya hati bekerja kebalikan dari apa yang dipikirkan.

Apakah ia? KETENANGAN

    Di dalam kehidupan seharian, kita terlupa satu perkara. Bahwa kita sering melakukan dosa dan tiap kali kita melakukan dosa, yang memaafkan dan mengampunkan kita adalah ALLAHJadi, bagaimana kita boleh berpikir untuk tidak memaafkan manusia yang melakukan dosa kepada kita, sedangkan Allah saja mengampunkan dosa-dosa kita terhadap-Nya. 

     Berdendam tidak akan membawa kita kepada ketenangan hidup guis, sebab kalau kita berdendam dan tak mau memaafkan, kita akan hidup dengan rasa benci dan selalu kegelisahan. Maafkan orang yang berbuat salah kepada kita walau sesakit apapun mereka menyakiti.

     ORANG YANG PALING KUAT ADALAH DIA YANG MEMAAFKAN ORANG LAIN    
   

nahhh... nie dia tips-tips memaafkan orang lain tanpa sakit hati. mau tau caranya bagaimana? simak ya guis ;)

1.  Meyakini hal tersebut adalah takdir Allah SWT
     
       Meyakini bahwa perbuatan buruknya merupakan takdir Allah SWT yang telah ditetapkan untuk kita. Allah lah yang telah menciptakan perbuatan para hamba, seperti dalam firmannya dalam QS. As-Saffat ayat 96.
وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ
"Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu". 

   Karena itulah, kita bisa memandang perbuatan yang tidak menyenangkan yang tidak dilakukan orang lain pada kita adalah sebuah takdir. Dan sebagai hamba Allah, kita menerima dan beriman pada takdir yang telah Allah tetapkan sehingga kita paham bahwa Allah-lah yang pada hakikatnya menimpakan musibah pada kita melalui orang yang berbuat aniaya.

2. Mengingat dosa yang telah kita perbuat
    
      Cara selanjutnya dengan mengingat bahwa kita pun pernah melakukan banyak dosa dan musibah yang terjadi juga disebabkan karena dosa-dosa yang kita perbuat. Maka Allah SWT menjadikan orang-orang yang berbuat aniaya pada kita karena perbuatan dosa yang kita lakukan. QS. Asy-Syura:30 Allah SWT berfirman:

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ

"Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)". 

3. Sabar datangkan pahala
     
     Selalu menanamkan pada diri sendiri bahwa sabar dan memaafkan akan mendatangkan pahala yang sangat besar, diantara pahala tersebut adalah Allah mengatakan bahwa Allah akan bersama orang-orang yang sabar. Seperti dalam firman Allah berikut ini:

قُلْ يَا عِبَادِ الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا رَبَّكُمْ ۚ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا فِي هَٰذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةٌ ۗ وَأَرْضُ اللَّهِ وَاسِعَةٌ ۗ إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ 

Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang beriman. bertakwalah kepada Tuhanmu". Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas. (Az-Zumar:10)

4.  Segala perbuatan
ada balasannya 
    Selanjutnya kita tanamkan pula dalam jiwa bahwa balasan itu tergantung dari bentuk perbuatannya. Kita harus sadar bahwa orang yang banyak berbuat dosa pada Allah baik disebabkan oleh hati, lisan atau anggota tubuh lainnya baik yang kita sadari maupun tidak, maka tentunya kita akan amat sangat butuh ampunan Allah SWT. Dengan kita memberikan maaf pada orang-orang yang telah bersalah pada kita, orang-orang yang bersifat buruk pada kita, maka dengan amalan ini kita berharap Allah pun mengampuni kita atas perbuatan dosa dan aniaya terhadap diri sendiri. Dengan mudahnya kita memaafkan orang lain, maka kita berharap Allah pun akan dengan mudah mengampuni dosa-dosa kita. Allah SWT berfirman:
وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا ۖ فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِي

"Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim." (Asy-Syura:40)

5. Tidak membalas perbuatan
 
     Selanjutnya tidak membalas perbuatan aniaya orang lain kepada kita dengan perbuatan yang sama, karena hal ini adalah sunnah Rasulullah SAW. Kita semua yakin tidak ada orang yang lebih mulia dan tidak ada orang lebih agung harga dirinya serta lebih terhormat daripada nabi kita Muhammad SAW. Bersamaan dengan itu, tidak pernah sekalipun Beliau membalas penganiayaan orang lain terhadap dirinya. Maka kita yang kehormatan dan harga dirinya jauh dibandingkan dengan Rasulullah lebih pantas lagi memaafkan orang-orang yang tidak baik pada kita. Memaafkan adalah bagian dari sunnah Rasulullah SAW. dan membalas adalah bukan dari bagian sunnah Beliau. Dan jika kita mampu untuk mengendalikan diri kita untuk tidak membalas maka perbuatan ini adalah suatu kebaikan yang besar dan akan melahirkan kebaikan-kebaikan yang lainnya. Karena sebuah kebaikan akan membuahkan kebaikan yang lain.

Komentar